PASAR tekstil Tanah Abang saat ini tengah bergejolak. Mau tidak mau gejolak itu akan menumbuhkan perluasan pasar tekstil di wilayah Jakarta dan sekitarnya sebagai akibat dari ketidakmampuan para pedagang di Pasar Tanah Abang membeli kios baru dengan harga baru yang sulit dijangkau.
SELAIN Pasar Cipulir, sangat boleh jadi pilihan itu akan jatuh ke Pasar Cipadu di Kecamatan Larangan, Kota Tangerang. Seiring dengan gejolak di Pasar Tanah Abang yang belum juga berakhir sebagai akibat dari rencana pembongkaran Blok B, C, D, dan E, Pasar Cipadu akan dilirik para pedagang Tanah Abang atau eks pedagang Tanah Abang.
Pertanyaannya kemudian, siapkah Pasar Cipadu dengan segala kekurangan sarana dan prasarananya itu menjadi sebuah pasar tekstil alternatif? Mampukah Pasar Cipadu tumbuh sebagai sentra perdagangan tekstil di kota satelit yang omzet dan keramaian transaksinya bisa menandingi Pasar Tanah Abang?
MEMBUAT sebuah pasar memang tidak cukup hanya dengan menyiapkan bangunan di tempat yang strategis dan mendatangkan para pedagang untuk mengisinya. Masih ada "faktor lain" yang kadang di luar perhitungan manusia. Faktor lain inilah yang membuat mengapa sebuah pasar yang direncanakan akhirnya gagal, atau sebuah tempat yang sebelumnya tidak direncanakan menjadi pasar justru berkembang pesat menjadi sebuah pasar.
Adanya "faktor lain" itu pula yang selama ini diyakini turut membentuk pasar kain di Cipadu. "Pasar Cipadu terbentuk karena kehendak Tuhan. Sebab, awalnya tidak pernah ada rencana untuk menjadikan tempat ini sebagai pasar seperti sekarang," kata H Sjafrudin, pengelola sekaligus pemilik Pasar Cipadu, yang ditemui beberapa hari lalu.
"Untuk biaya operasional masjid yang dibangunnya, pada tahun 1990 H Mualih, ayah saya, membangun 24 kios yang kemudian disewakan. Karena yang menyewa makin lama makin banyak, akhirnya dibangun kios lagi sampai menjadi seperti sekarang," tutur Sjafrudin.
Sekarang, menurut Sjafrudin, di Pasar Cipadu terdapat sekitar 260 kios yang tersebar pada lahan seluas sekitar 1,5 hektar di sepanjang Jalan KH Wahid Hasyim, Kecamatan Larangan, tersebut. Kios yang umumnya berukuran 3 x 3 meter dan 3 x 4 meter itu hampir semuanya disewa para pedagang kain.
Sebagian besar kain yang ditawarkan di Cipadu merupakan kain impor yang dijual secara kiloan. Sisanya adalah kain baru dari berbagai jenis seperti bahan celana, baju, kerudung, hingga kebaya dan seprai.
Selain membangun kios, Sjafrudin juga mengembangkan warisan orangtuanya itu dengan membuat lapangan parkir dan sejumlah area untuk menjual berbagai makanan. "Setelah berbelanja, konsumen dapat beristirahat di berbagai warung yang semua makanannya halal," ujarnya.
SEIRING dengan makin banyaknya pedagang kain di Cipadu, konsumen yang datang ke kawasan itu juga makin banyak. Jika melihat nomor polisi kendaraan yang mereka gunakan dan logat bicara mereka, konsumen ini sebagian besar berasal dari Jakarta dan daerah di sekitarnya seperti Tangerang.
"Saya senang belanja di sini sebab tempatnya bersih dan aman. Di sini juga tidak terlalu semrawut seperti Pasar Tanah Abang," kata Handayani, pemilik usaha konfeksi rumahan di daerah Ciledug, Tangerang, yang ketika ditemui sedang asyik memilih-milih kain di salah satu kios di Pasar Cipadu.
Sekretaris Daerah Pemkot Tangerang Herry Mulya Zein menyatakan, pemkot saat ini tengah memikirkan cara mengembangkan Pasar Cipadu.
Salah satu gagasan yang hendak direalisasikan adalah pembangunan jalan yang menghubungkan Kecamatan Pinang dengan Pintu Tol Karang Tengah. "Paling telat akan dibangun akhir tahun 2005. Dengan adanya jalan ini, akses ke Cipadu jadi lebih cepat," kata Hery.
Apabila ditinjau lagi, rencana Pemkot Tangerang membangun Cipadu sebagai kawasan pusat bisnis di tingkat kecamatan sungguh suatu langkah yang sangat disayangkan.
Potensi Cipadu itu luar biasa. Jika digarap lebih serius, Cipadu bukan hanya menjadi sekadar pasar dengan nilai transaksi Rp 8 miliar-Rp 10 miliar setiap hari, tetapi bisa menjadi pusat tekstil besar seperti Tanah Abang, yang total nilai transaksinya dalam sehari bisa mencapai Rp 400 miliar.
Untuk mewujudkan impian itu, Pemkot Tangerang memang tak sekadar memberi label bahwa Cipadu adalah pusat grosir tekstil dan garmen. Pemerintah juga harus ikut membangun kawasan di sana! (M HERNOWO/ HERMAS EFENDI PRABOWO)
Geliat Pasar Bahan Cipadu
Liputan6.com, Tangerang: Sekitar empat tahun silam--juga tahun-tahun sebelumnya, kawasan Cipadu di Ciledug, Tangerang, Banten, cuma daerah permukiman biasa. Meski banyak warga setempat berusaha di bidang konfeksi, belum ada pusat pertokoan tekstil di sana. Umumnya warga Cipadu berdagang konfeksi di Pasar Cipulir, Jakarta Selatan atau di Pasar Tanahabang, Jakarta Pusat.
Namun, siapa menyangka jika Cipadu saat ini berkembang menjadi sentra bisnis tekstil. Dari pemantauan SCTV, baru-baru ini, sejak dari Pasar Kereo hingga ke Cipadu yang letaknya jauh di dalam, di kiri-kanan jalan banyak kios-kios tekstil.
Pasar Bahan Cipadu sendiri letaknya sekitar dua kilometer dari depan jalan utama di Kereo. Adalah almarhum Haji Mualih yang mendirikan pertama kali sejumlah kios sederhana pada 1997 di pinggir Jalan Kiai Haji Wahid Hasyim (Jalan Cipadu). Pada mulannya dia berbisnis tekstil hanya untuk memenuhi pasokan kain bagi para pengusaha konfeksi di sana.
Tak dinyana, Cipadu berkembang pesat. Sejumlah toko yang dahulu didirikan Mualih kini berkembang menjadi sekitar 260 kios--belum lagi toko-toko tekstil lainnya yang juga ada di kawasan Cipadu, namun di luar Pasar Bahan Cipadu. Omzet bisnis tekstil di Cipadu juga tak tanggung-tanggung, mencapai miliar rupiah per bulan.
Para pembeli juga datang dari berbagai daerah, terutama pada bulan-bulan tertentu, seperti menjelang Lebaran dan liburan sekolah. Sejumlah pedagang di Pasar Cipadu mengungkapkan, dalam keadaan sepi pembeli, omzet mencapai Rp 1 juta per hari. Bila menjelang Lebaran dan liburan sekolah, omzet bisa mencapai Rp 5 juta per hari.
Sebagian pedagang lainnya mengatakan, prospek bisnis tekstil di Pasar Cipadu cukup menjanjikan. Tekstil yang mereka jual berasal dari Pasar Tanahabang, Jakpus. Ada juga tekstil impor dari Jepang dan Korea Selatan.
Di Pasar Bahan Cipadu, tersedia katun, satin, parasit, kaos, poliester, hingga sutera. Semua barang-barang itu dijual dengan cara kiloan dan meteran serta grosiran. Harga juga bersaing dengan pasar tekstil lainnya, semisal Pasar Cipulir atau Tanahabang.
Sayang, untuk datang ke pasar ini, tak ada petunjuk jelas yang menyebutkan keberadaan Pasar Bahan Cipadu. Sudah begitu, jalan menuju Pasar Bahan Cipadu tak mulus-mulus amat, selain lebar jalan yang hanya muat dua mobil. Bila dari arah Jakarta, Anda yang menuju Pasar Bahan Cipadu melewati Cipulir dan Kereo juga bakal merasakan kemacetan lalu lintas di dua kawasan itu.(ZIZ/Winny Arnold dan Taufik Hidayat)
Pasar Tekstil Cipadu
Pasar Tekstil Cipadu sebagai sentra tekstil dan garmen di pinggiran Jakarta, saat ini berkembang pesat. Pasar yang terletak di Cipadu, Larangan, Tangerang, Banten, ini merupakan salah satu pilihan berbelanja setelah Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Jenis tekstil yang ditawarkan bervariasi dari produk lokal hingga impor. Harga yang ditawarkan miring, dapat dibeli secara grosir maupun eceran. Selain dikenal sebagai sentra tekstil dan garmen, juga bisa diperoleh perlengkapan tidur seperti seprai, sarung bantal dan guling, bed cover, hingga bantal cinta yang sedang "nge-trend".
Wartawan "Pembaruan" Ruht Semiono
Kami Kreatif, Maka Bertahan…
MULYADI (30) dengan antusias memilah-milah kain "kantong" kiloan, kain jenis katun yang biasa digunakan sebagai lapisan dalam saku celana. Sepuluh menit lamanya lelaki berbadan gempal asal Cianjur, Jawa Barat, itu membongkar tumpukan kain berwarna putih di sebuah kios yang menjual aneka kain kiloan di Cipadu, Kecamatan Larangan, Kota Tangerang.
Pemilik industri rumahan yang bergerak di bidang jasa penjahitan (konfeksi) ini memang harus hati-hati. Sekali salah memilih kain, jenis poliester misalnya, maka tampilan kantong celana pada setiap celana blue jeans untuk anak- anak produksinya tidak akan menarik lagi.
"Kalau pakai kain poliester, suka mengkeret (mengecil). Bisa-bisa barang-barang yang saya buat nggak laku di pasaran," kata Mulyadi saat ditemui di Cipadu, Selasa (27/7). Pengusaha konfeksi itu mengaku punya 16 mesin jahit untuk menunjang usahanya.
Bagi Mulyadi, pemilihan jenis kain memang bukan satu- satunya cara yang membuat ia tetap bertahan mengelola usaha konfeksinya di tengah minimnya pasokan kain impor. Syarat utama yang justru tidak boleh dikesampingkan adalah kreativitas.
Bagi para pengusaha konfeksi, kreativitas menciptakan berbagai pola pakaian hasil produksinya merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Mulyadi sendiri mengibaratkan kreativitas dalam menciptakan pola dan desain baru celana sebagai sebuah lauk.
"Bayangin saja kalau kita makan lauknya itu-itu saja, kita pasti bosan. Begitu juga konsumen, pasti akan senang dengan sesuatu yang baru, yang bermodel, dan tentu saja ngetren. Tidak hanya orang muda dan dewasa, anak-anak pun harus ngetren," katanya.
USAHA konfeksi Mulyadi tidak berkembang secara tiba- tiba. Banyak proses, kendala, tantangan, dan kejelian melihat peluang yang harus dia jalani. Kisah perjuangan Mulyadi dalam merintis usaha konfeksinya berawal ketika ia mencoba mencari peluang usaha di Pasar Cipulir.
Ketika itu ia mencoba menawarkan kemampuannya menjahit pakaian kepada seorang pedagang kain sekaligus penjual aneka pakaian jadi di pasar tersebut. Gayung pun tersambut.
Pedagang kain yang sekarang menjadi pelanggan tetap Mulyadi bersedia meminjamkan sejumlah modal dan kain kepada Mulyadi untuk memproduksi celana pendek anak- anak. Mulyadi langsung menyanggupi tawaran tersebut.
Pada awalnya ia hanya memiliki empat mesin jahit dengan empat pekerja. "Saya memang tidak modal apa-apa, hanya modal dengkul dan kepercayaan," katanya.
Mulyadi juga harus menjahitkan celana pendek itu dalam jumlah hanya beberapa lusin saja. Celana hasil produksinya terus dijual kepada pemilik kain tersebut yang kemudian menjualnya hingga ke Tanah Abang, Bandung, bahkan sampai ke luar negeri.
Lama-kelamaan usahanya terus berkembang. Sejak merintis usahanya di Kampung Baru, RT 004 RW 07, Kelurahan Sukabumi Selatan, Kecamatan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, delapan tahun lalu, usaha konfeksinya terus berkembang. Paling tidak, saat ini jumlah mesin jahitnya sudah 16 unit dengan 16 pekerja.
Setiap minggu Mulyadi mampu menggaji karyawannya sebesar Rp 100.000 tiap orang. Dalam satu bulan, paling tidak ia mengeluarkan dana Rp 6,4 juta. Belum untuk biaya listrik, menyewa kontrakan, dan biaya transportasi mengantarkan pakaian jadi.
Usahanya memang terus berkembang, tetapi seiring dengan itu, tuntutan kreativitas terus saja membuntutinya. Entah sudah berapa ratus model celana anak yang diciptakannya. Mulai dari yang polos, berumbai, hingga yang banyak kancingnya. "Saya lupa sudah berapa banyak. Pokoknya udah nggak keitung lagi," katanya.
Di Kelurahan Cipadu Jaya, Cipadu Induk, dan Kreo Selatan, yang dikenal sebagai kawasan perdagangan grosir kain, saat ini muncul ratusan pengusaha konfeksi seperti Mulyadi. Tidak hanya di tiga kelurahan itu saja, peminat usaha konfeksi kini juga mulai merambah ke kelurahan-kelurahan lain di sekitar kawasan Cipadu.
Bagi Mulyadi dan pengusaha konfeksi kecil-kecilan lain, modal kepercayaan dan kreativitas adalah yang utama. Di tengah pemerintah yang begitu akrab dengan pengusaha kelas kakap, orang-orang kecil seperti Mulyadi ini memang sering dilupakan. Pemerintah ataupun bank enggan mengucurkan kredit, tetapi mereka toh tetap bisa terus berkembang sendiri. (MAS)
PASAR 'BAHAN' CIPADU
Empat tahun lalu, kawasan Cipadu, Ciledug, masih merupakan daerah pemukiman biasa. Tapi, daerah itu berkembang dengan cepat menjadi sentra bisnis tekstil, seperti layaknya kawasan Tanah Abang di Jakarta Pusat. Walaupun akses jalan menuju tempat ini bisa membuat patah arang lantaran jalannya yang rusak dan kemacetan yang amat luar biasa di daerah Cipulir, toh tempat ini tetap menjadi surga bagi para pemburu tekstil dengan harga miring. Di pasar ini tersedia beragam jenis kain mulai dari katun, satin, polyster, korduroi, hingga sutra yang banyak diimpor dari Jepang, Korea, India, Italia, hingga Prancis. Justru untuk mencari bahan loka memang agak sulit, kecuali jika Anda memang datang khusus untuk mencari sarung dan batik.
Kebanyakan kain-kain di pasar ini dijual dengan cara kiloan (dihitung beratnya dengan harga per kilo), walaupun ada beberapa yang juga dijual secara meteran atau grosir. Harganya juga sangat beragam, seperti kain katun Cina yang dijual seharga Rp15.000 per meter, sutra Thailand Rp30.000 per meter, hingga kain brokat Jepang yang dijual bervariasi mulai dari Rp15.000 per meter hingga Rp500.000 per meter. Jika tertarik mendatangi Pasar Bahan Cipadu, tempat ini beroperasi mulai pukul 9 pagi hingga 6 sore. Saran Area, pilihlah jalur alternatif melalui perumahan Bintaro Jaya karena kemacetan di daerah Pasar Cipulir sungguh sangat sulit ditolerir.
|